Dugaan Game Horor di Balik Siswi SD Lompat dari Lantai 3 Pasar
Polisi Selidiki Dugaan Pengaruh Game Horor dalam Insiden Siswi SD Lompat dari Lantai Tiga Pasar di Denpasar

Korban Masih Jalani Pemulihan dan Belum Bisa Memberi Keterangan
Peristiwa seorang siswi sekolah dasar berinisial KA (13) yang meloncat dari lantai tiga Pasar Desa Adat Serangan, Denpasar, masih menyisakan tanda tanya. Hingga kini, aparat kepolisian belum dapat menggali keterangan langsung dari korban karena kondisinya masih dalam tahap pemulihan pascaoperasi.
Kanitreskrim Polsek Denpasar Selatan, Iptu Azel Arisandi, menyampaikan bahwa korban masih mengalami syok akibat kejadian tersebut. Oleh karena itu, penyidik menunda pemeriksaan hingga kondisi psikologis dan fisik korban membaik.
Polisi Telusuri Bukti Digital dan Temukan Kaitan dengan Lagu dari Game
Sambil menunggu kondisi korban pulih, polisi melakukan pendalaman melalui analisis digital forensik terhadap video yang beredar. Dari hasil penelusuran, penyidik menemukan bahwa korban memutar lagu berjudul My Time yang dipopulerkan Bo En.
Lagu tersebut diketahui menjadi bagian dari soundtrack game horor-psikologis Omori. Temuan ini memicu spekulasi di kalangan warganet yang mengaitkan insiden tersebut dengan adegan dalam permainan tersebut.
Sejumlah komentar di media sosial menyebut karakter dalam game itu melakukan aksi melompat dari ketinggian pada bagian akhir cerita. Dugaan bahwa korban terinspirasi dari konten tersebut pun mencuat.
Psikolog Jelaskan Anak Rentan Terpengaruh Dorongan Sesaat
Menanggapi fenomena tersebut, psikolog Wangsa Ayu Vidya Loka menjelaskan bahwa anak dan remaja memiliki tingkat kontrol impuls yang belum matang. Ia menekankan bahwa bagian otak yang berfungsi dalam pengambilan keputusan belum berkembang sempurna pada usia tersebut.
Menurutnya, kondisi itu membuat anak berpotensi melakukan tindakan ekstrem akibat dorongan sesaat. Dorongan tersebut bisa muncul dari rasa ingin mencoba, mencari perhatian, atau meniru sesuatu yang dilihat tanpa memahami konsekuensi secara utuh.
Ahli Ingatkan Pengaruh Game Bukan Penyebab Tunggal
Meski demikian, Vidya mengingatkan agar publik tidak langsung menyimpulkan bahwa game menjadi penyebab utama. Ia menilai konten seperti game, musik, atau visual memang dapat memengaruhi anak, terutama jika terdapat keterikatan emosional dengan karakter atau cerita.
Namun, ia menegaskan bahwa pengaruh tersebut biasanya hanya berperan sebagai pemicu. Faktor lain seperti kondisi psikologis anak tetap menjadi aspek utama yang perlu diperhatikan dalam memahami kejadian tersebut.
Kasus ini masih terus didalami oleh pihak kepolisian dengan pendekatan yang hati-hati, sambil menunggu kondisi korban pulih agar dapat memberikan keterangan lebih lanjut.
