HUT Ke-75 HBT, Wamen Viva Yoga Kenang Calon Transmigran yang Jadi Korban Kecelakaan
Wamen Viva Yoga Kenang Tragedi Calon Transmigran di Peringatan HUT ke-75 HBT
Pemerintah Mengingat Pengorbanan Pionir Transmigrasi

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengenang tragedi kecelakaan yang menimpa rombongan calon transmigran pada 1974 saat memperingati Hari Bhakti Transmigrasi ke-75. Pemerintah menggelar peringatan tersebut di Makam Pionir Transmigrasi, Desa Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu 10 Desember 2025.
Dalam kesempatan itu, Viva Yoga mengajak seluruh peserta untuk mendoakan para calon transmigran yang gugur agar memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT. Ia juga menyampaikan harapan agar keluarga yang ditinggalkan terus diberi kekuatan dan ketabahan.
Penyintas Mengingat Perjalanan Terakhir Keluarganya
Salah satu penyintas tragedi, Suyamto, kembali mengingat peristiwa memilukan yang terjadi saat dirinya masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Kala itu, ayahnya memutuskan mengikuti program transmigrasi sebagai jalan untuk memperbaiki masa depan keluarga.
Bersama puluhan calon transmigran lain, keluarganya berangkat dari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menuju kawasan transmigrasi di Lampung dan Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Sebanyak 70 orang, terdiri dari kepala keluarga, istri, dan anak-anak, menempuh perjalanan panjang dengan penuh harapan.
Para calon transmigran membayangkan kehidupan baru dengan rumah sederhana dan lahan seluas dua hektare yang disiapkan pemerintah. Mereka tidak menyimpan firasat buruk sedikit pun sepanjang perjalanan.
Kecelakaan Tragis Menghentikan Harapan
Namun, perjalanan itu berubah menjadi tragedi. Saat bus melintas di Desa Sukra, tepat di jembatan penghubung Indramayu dan Subang, kendaraan tersebut bertabrakan dengan bus dari arah berlawanan. Benturan keras menyebabkan bus terbakar hebat.
Api yang membesar merenggut nyawa puluhan penumpang. Dari 70 orang di dalam bus, hanya tiga anak yang selamat. Suyamto dan Jaelani termasuk di antara penyintas yang berhasil keluar dari kecelakaan maut tersebut.
Sebanyak 67 korban yang meninggal dunia dimakamkan di lokasi yang tidak jauh dari jembatan kejadian. Kini, masyarakat mengenal tempat itu sebagai Makam Pionir Transmigrasi.
Pemerintah Menjadikan Tragedi Sebagai Pengingat Sejarah
Peristiwa yang terjadi pada 11 Maret 1974 itu meninggalkan duka mendalam, terutama bagi Kementerian Transmigrasi. Oleh karena itu, setiap tahun pemerintah memperingati Hari Bhakti Transmigrasi pada 12 Desember sebagai bentuk penghormatan kepada para pionir.
Dalam upacara HBT ke-75, Viva Yoga menegaskan bahwa para calon transmigran berangkat dengan niat mulia. Mereka ingin memperjuangkan kehidupan yang lebih sejahtera melalui program transmigrasi.
Menurutnya, perjuangan transmigran tidak pernah mudah. Mereka harus tinggal di wilayah terpencil, jauh dari pusat pemukiman, serta menghadapi kondisi alam yang belum sepenuhnya bersahabat. Meski demikian, semangat kerja keras para pionir telah meletakkan fondasi bagi pembangunan kawasan transmigrasi hingga hari ini.
Transmigrasi Menjadi Warisan Perjuangan Bangsa
Viva Yoga menilai kisah para pionir transmigrasi sebagai bagian penting dari sejarah pembangunan Indonesia. Ia menekankan bahwa pemerintah terus berupaya melanjutkan semangat pengabdian para pendahulu dengan mengembangkan kawasan transmigrasi yang lebih maju, mandiri, dan berkelanjutan.
Melalui peringatan Hari Bhakti Transmigrasi, pemerintah berharap generasi muda dapat memahami nilai pengorbanan, keberanian, dan ketekunan yang telah ditunjukkan para pionir dalam membangun masa depan bangsa.
